ArtikelIslam

IMAM NAWAWI DAN SYARAH KITAB SHAHIH MUSLIM

imam nawawi

Biografi Imam Nawawi

Nama lengkapnya adalah Imam Al Hafidz Al Awhad Al Qudwah Syaikhul Islam Muhyid Bin Abu Zakaria Yahya Bin Syaraf As Syafi’i. Beliau lahir pada bulan muharram 631 H. Ia seorang yang masyhur sebagai seorang alim ulama wara’ dan ahli ibadah. Ayah yang mendidik Imam Nawawi terkenal dengan kesalehan dan ketakwaan. Imam Nawawi mulai belajar pada katatib (tempat belajar baca tulis untuk anak-anak) dan hafal Al-Quran sebelum menginjak usia baligh.[1]

Ketika berumur sepuluh tahun, Syaikh Yasin bin Yusuf Az-Zarkasyi melihatnya dipaksa bermain oleh teman-teman sebayanya, namun ia menghindar, menolak dan menangis karena paksaan tersebut. Syaikh ini berkata bahwa anak ini akan menjadi orang paling pintar dan paling zuhud pada masanya dan bisa memberikan manfaat yang besar kepada umat Islam. Perhatian ayah dan guru beliau-pun menjadi semakin besar.

Imam An-Nawawi tinggal di Nawa hingga berusia 18 tahun. Kemudian pada tahun 649 H ia memulai perjalanan keilmuan-nya ke Dimasyq dengan menghadiri halaqah-halaqah ilmiah yang diadakan oleh para ulama kota tersebut. Ia tinggal di madrasah Ar-Rawahiyyah dekat Al-Jami’ Al-Umawiy. Ia menghadiri dua belas halaqah dalam sehari, ia rajin sekali dan menghafal banyak hal. Ia pun mengungguli teman-temannya yang lain. Ia berkata: “Dan aku menulis segala yang berhubungan dengannya, baik penjelasan kalimat yang sulit maupun pemberian harakat pada kata-kata. Dan Allah telah memberikan barakah dalam waktuku.”

Guru Imam Nawawi

Berikuti ini adalah guru-guru Imam Nawawi : [2]

  1. Guru- guru dalam bidang fiqh: Abu Ishaq al-Maghribi al-Maqdisi, Abu Muhamad Abdu al-Rahaman ibn Nuh Ibn Muhamad Ibn Ibrahim Ibn Musa al-Maqdisi, Abu Hafsin Umar ibn As’ad Ibn Abi Ghalib al-Irbili, Abu al- Hasan Salar Ibn Hasan al-Irbili al-Halabi al-Damasqi, Ahmad Ibn Utsman al-Maghribi al-Dimasqi.
  2. Guru-guru dalam bidang hadis: Zainudin Abu al-Baqa Khalid Ibn Yusuf Ibn Sa’ad, Rida Ibn al-Burhan, Abd al-Aziz Ibn Muhamad Ibn Abd al-Muhsin al-Ansari al-Hamawi al- Syafi’i, Zainudin Abu al-Abas Ibn Abd al-Daim al-Maqdisi, Abu al-Farj Abdu al-Rahaman Ibn Abu Umar Ibn Ahmad Ibn Muhamad Ibn Qodamah al-Maqdisi, Qadi al-Qadzah ‘Ima al-Din Abu Fadail Khatib Damasqi, Taqiyudin Abu Muhamad Isma’il Ibn Abi Ishaq Ibrahim Ibn Abi al-Yasar al-Tanukhi, Jamal al-Din Abu Zakariya Ibn Abi Fath al-Sairafi al-Harani.
  3. Guru-guru dalam bidang Nahwu dan Sorof: Ahmad Salim al-Misri (Islah al-Mantiq Karya Ibn al-Sakit, Kitab membahas ilmu morfologi), Alfiyah Ibn Malik (Imam Malik al-Andalusi). Kemudian Guru-guru Dalam Bidang Usul Fiqh ialah Al-Qadzi Abu al-Fath Umar Ibn Bandzar Ibn Umar Ibn Ali Ibn Muhamad al-Taflisi al-Syafi’i.

Murid Imam Nawawi

Sedangkan murid-murid Imam Nawawi terbagi menjadi dua macam. Yaitu :

  1. Murid dengan metode Talaqqi, para murid Nawawi yang mengunakan sistem talaqqi  ini antara lain adalah:

Sihab al-Din  Abu Hafsin Umar Ibn Katsir (Ibn Katsir), Sihab al-Din al-Irbadi, Samsu al-Din al-Baitar, Syeh Jibril al-Kurdi, Sihab Muhamad Ibn Abdu al-Khaliq Ibn Usaman al-Ansari al- Dimasqi, Abu Abas Ahmad Ibn Ibrahim Ibn Mus’ab, Muhamad Ibn Ibrahim Ibn Sa’dullah Ibn Jama’ah, Abdullah Ibn  Muhamad Ibn Ali, Al-Qadi Diya’ al-Din Ali Ibn Muslim, Abdu al-Rahim Ibn Muhammad Ibn Yusuf al-Samhudi al-Khatib al-Adib, Al-Qadi Jamaludin sulaiman Ibn Umar Ibn Salim al-Zar’i, Al-Qadi Sadru al-Din Sulaiman Ibn Hilal al-‘Askari.

  1. Murid dengan metodeIjazah, Murid- murid dengan sistem Ijazah sebagai berikut:

Abu Nu’im Ahmad Ibn al-Taqi, Al-Saif Abu Bakr Ibn Muhammad Ibn Ahmad Ibrahim Ibn Haidar Ibn al-Qamah, Nasr al-Din Muhammad Ibn Kasatahdi, Jamaludin Ibn al-‘Aththar.

Pada tahun 651 H ia menunaikan ibadah haji bersama ayahnya, kemudian pergi ke Madinah dan menetap selama satu setengah bulan lalu kembali ke Dimasyq. Pada tahun 665 H ia mengajar Darul Hadits Al-Asyrafiyyah (Dimasyq) dan menolak untuk mengambil gaji. Beliau digelari Muhyiddin (yang menghidupkan agama) dan membenci gelar ini karena ke-tawadhu’-an beliau. Selain itu, agama islam adalah agama yang hidup dan kokoh, tidak memerlukan orang yang menghidupkannya sehingga menjadi hujjah atas orang-orang yang meremehkannya atau meninggalkannya. Beliau berkata: “Aku tidak akan memaafkan orang yang menggelariku Muhyiddin.

Karya Imam Nawawi

Imam Nawawi meninggalkan banyak sekali karya ilmiah yang terkenal. Jumlahnya sekitar empat puluh kitab, berikut beberapa sebagiannya:

  1. Al-Minhaj Syarah Shahih muslim, kitab ini merupakan syarah dan berisi tentang penjelasan tentang hadis- hadis dalam Shahih Muslim.
  2. Al-Irsad, kitab ini adalah ringkasan dari kitab Ulum al-Hadis karya Ibn Al-Shalah, yang terkenal dengan muqodimah Ibn Shalah.
  3. Al- Taqrib Fi Usul al-Hadis, kitab ini adalah ringkasan dari kitab al- Irsad mukhtasar Muqodimah Ibn al- Shalah, kemudian Imam Jalal al-Suyuti mensyarahinya dengan nama, Tadrib al-Rawi.
  4. Tahdib al-Asma’ Wa al-Lughat, kitab ini membahas seputar bahasa yang berada dalam kitab fiqh  al-Syafi’I, khususnya kitab Al-Tanbih dan Al-Muhadzab karya al-Sairazi, Raudah al-Talibin, karya Al-Nawawi, Al-Wasit dan Al-Wajiz karya, Abu Hamid al-Ghazali, Muhtasar al-Muzani, ringkasan kitab Al-Um al-Sayfi’i. Kitab tersebut berjumlah 4-5 jilid dan belum selesai Imam Nawawi wafat, dan akhirnya  muridnya Al-Hafidz al-Mizi menyelesaikannya.
  5. Al- Manasik al-Kubra al-Sughra, kitab ini mengupas lengkap masalah haji, baik dari rukun, wajib sunahnya haji.
  6. Al- Tibyan fi Hamlah al-Qur’an, kitab ini membahas adab membaca, hafalan memegang dll.Dalam kitab ini beliau juga banyak mencantumkan riwayat-riwayat Shahih.
  7. Minhaj al-Talibin, kitab ini adalah ringkasan karya Imam al-Rafi’I yang berjudul Al- Muharar , kitab ini belum selesai Imam Nawawi wafat.

Karya Lainnya

  1. Raudah al-Talibin, kitab fiqh safi’i yang koperehensif, Imam Nawawi sempat membuat ringkasan kitab tersebut, akan tetapi tidak selesai karena beliau wafat terlebih dahulu.
  2. Al- Majmu’ Syarah al-Muhadzab, kitab ini adalah penjelasan dari kitab Muhadzab karya al- Sairazi kitab yang koperehensif, Imam al-Hafidz Ibn Katsir mengatakan bahwa kitab al-Majmu’ menggunakan bahasa yang mudah, mengupas permasalahan yang muskil, akan tetapi karya fenomenal ini tidak sampai selesai, Imam Nawawi wafat.
  3. Riyad al-Shalihin, kitab ini mengambil dari berbagai kitab hadis, hadis-hadis seputar targhib dan tahdzib , khususnya Kutub al- Sitah.
  4. Hilyat al-Abrar Wa Sa’airu al- Akhyar fi Talkhis al- Da’wat Wa al-Adzkar, kitab ini menukil dari hadis doa-doa dan dzikir, kitab ini lebih popular dengan Al-Adzkar al-Nawawi.
  5. Manaqib al-Syafi’I, kitab ini adalah karya Imam Al-Baihaqi asalnya dua jilid, kemudian Imam al-Nawawi meringkasnya menjadi satu jilid.
  6. Al- Arba’un al-Nawawiyah, kitab yang memuat 40 hadis penting.

Imam Nawawi meninggal pada 24 Rajab 676 H. Kembali ke desa Nawa setelah mengembalikan kitab-kitab dari perpustakaan. Kemudian berziarah ke makam gurunya, berdo’a dan menangis, ia juga mengunjungi teman-temannya yang masih hidup dan berpamitan kepada mereka. [3]

SEJARAH PENULISAN

Dalam muqoddimahnya, Imam Nawawi mengatakan bahwa ia melakukan pensyarahan terhadap kitab shahih muslim karena kitab shahih muslim merupakan salah satu dari dua karya hadis yang paling shahih. Bahkan  memiliki otoritas mutlak dalam dunia ilmu pengetahuan islam. Keduanya adalah kitab shahih karya Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al Bukhari dan abdul Husain Muslim Bin Al Hajjaj Al Khusairi. Tidak ada karya lainnya dalam bidang hadis yang mampu menyaingi kedua kitab ini. Oleh karena itu tidak heran kalau keduanya sangat penting untuk mendapatkan syarah. Dengan mensyarahi kitab ini, faedah yang terkandung akan semakin luas dan ilmu pengetahuan  yang masih terpendam bisa sampai kepada seluruh umat muslim.

Imam Nawawi menyusun syarah untuk kitab shahih muslim dengan tampilan yang tidak terlalu ringkas. Tujuannya supaya mampu mencakup berbagai faedah yang masih tersebar. Juga tidak terlalu panjang, karena dapat menjemukan pembaca. Beliau mengatakan bahwa seandainya bukan karena kekhawatiran kalau karya ini tidak akan menarik minat para pelajar karena enggan membaca kitab yang sangat panjang, maka beliau akan menyusun karya ini lebih dari 100 jilid.

Setelah melalui pertimbangan yang matang, Imam Nawawi memutuskan untuk mengemas kita syarah ini dalam format yang sedang-sedang saja. Tidak terlalu ringkas dan juga tidak terlalu panjang. Akan tetapi, ia tetap membubuhkan berbagai macam ilmu pengetahuan yang penting. Seperti hukum, cabang-cabang hukum, etika, isyarat-isyarat yang penting dan pokok kaidah-kaidah syar’iyah. Ia juga menyebutkan penjelasan tentang lafaz, beberapa nama perawi, nama personal yang memiliki kuniyah, nama orang tuanya, nama-nama yang masih samar statusnya dan kondisi para perawi yang belum begitu jelas. Ia juga menyebutkan penjelasan tentang berbagai kandungan ilmu hadis yang ada dalam matan, sanad. Menyebutkan nama-nama perawi yang mu’talaf-mukhtalaf dan cara mengkompromikan beberapa hadis yang redaksi luarnya terlihat bertentangan.

Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan kitab mengikuti Imam Muslim dalam kitabnya. Beliau memulainya dari bab Iman sampai dengan kitab tafsir. Imam al-Nawawi menyebutkan hadis-hadis terlebih dahulu baru kemudian memberikan penjelasan.

Sedangkan dalam sistematika penyusunan kitabnya, Imam al-Nawawi menyusun dengan susunan sebagai berikut :

Juz pertama berisi muqodimah muhaqiq, Imam al-Nawawi dan muqodimah Imam Muslim, serta sedikit fasal dari kitab Iman. Kitab ini yang dicetak Dar al-Hadis Kairo yang berjumlah 9 juz. Cetakan lain ada yang  19 juz oleh Dar al- Fikr Beirut Libanon, dan ada pula yang berjumlah 18 juz .

Dari paparan al-Nawawi dalam muqoddimahnya dapat kesimpulan bahwa al-Nawawi dalam menyusun kitabnya ini menggunakan metode tahlili. Ia memberikan penjelasan secara detail dan mendalam dari segi sanad dan matan hadis tersebut. Walaupun demikian, tidak semua penjelasan-penjelasan hadis tersebut mutlak hanya menggunakan satu metode tersebut. Imam Nawawi juga menggunakan metode ijmali, menjelaskan secara global saja. Hal ini karena tidak semua hadis memerlukan penjelasan yang panjang lebar, atau terkadang juga sudah ada dalam hadis-hadis sebelumnya.

Sumber

Imam An-Nawawi, Dr. Musthafa Dib al-Bugha,dkk. Syarah Riyadus Shalihin, Gema Insani. Jakarta : 2012

Imam An-Nawawi, Terjamah Syarah Shahih Muslim, Mustaqiim, Jakarta Selatan

Shamsudin Az-Zhahabi, Tazkiratul Huffaz, Kairo Dar al Ihya At-Turas al-Arabi. Kairo

[1] Syarah shahih muslim, jilid 1, hal 37

[2] Kitab Tadhkirat Al Hufaz, jilid 3, hal 1471

[3] Syarah riyadus shalihin, jilid 1 hal XX

Komentarmu?