Dijual Teman

dijual teman

Dunia Mimpi-Minggu, 30 Oktober 2022

Berlokasi di sebuah tempat, aku dan 2 orang temanku sedang duduk-duduk sambil membicarakan sesuatu yang tak begitu kuingat.

Setelah beberapa saat, salah seorang temanku pergi mengambil barangnya yang ketinggalan di mobil. Tak lama kemudian temanku yang satu lagi juga pergi menyusul teman kami tadi. Alhasil aku tinggal sendirian.

Saat aku melamun sambil menunggu kedua temanku kembali, tiba-tiba ada beberapa orang berbadan besar yang terlihat terburu-buru menuju ke arahku.

Melihat gelagat mereka yang seperti itu, insting bertahan hidupku keluar. Seketika aku berlari dengan sangat kencang tanpa menoleh sedikitpun. Samar-samar terdengar mereka berteriak, “Woi jangan lari woi, Lu udah kita beli dari 2 orang Bos Lu tadi”. Ternyata aku dijual teman ku tadi untuk jadi pekerja imigran.

Tanpa memedulikan omongan mereka aku terus lari, entah berapa lama, tapi saat itu sudah tidak terdengar suara atau langkah mereka lagi.

Tidur berlanjut😄

Situasi beralih saat sedang touring ke sebuah tempat. Kamipun disambut oleh penduduk karena salah seorang dari rombongan kami ada pejabat, saya lupa apakah itu saya atau teman saya, hahaaa.

Sambutannya terbilang cukup meriah. Berbagai pertunjukan dan makanan tersaji untuk kami. Beberapa anak muda juga terlihat sedang bermain voli. Semua orang terlihat bahagia dan bersemangat.

Setelah puas menikmati penyambutan ini, kami melanjutkan perjalanan ke tempat wisata. Tempatnya masih sangat alami, ada waduk dan air terjunnya dan monyet-monyet penguasa wilayah itu.

Advertisements

Ketika sedang minum dan bersantai-santai, ada beberapa monyet yang mendekat ke arahku. Makanan dan tas-tas yang kami bawa menjadi incaran monyet-monyet itu.

Setelah puas bersantai, kami mencari masjid untuk shalat Isya. Tak jauh dari tempat tadi ternyata ada dua masjid yang sangat berdekatan. Kami cukup heran melihat kondisinya, karena posisinya saling bersebelahan.

Saat akan memasuki salah satu masjid yang kupilih secara random, tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang wanita. Ia terdengar sangat kesakitan. Dengan agak berlari aku mendekati arah suara itu dan ternyata ia sedang terluka dengan darah yang cukup banyak.

Sambil berteriak memanggil pertolongan, aku mencoba menghentikan pendarahan yang pada kepala dan perutnya. Tak lama kemudian, satu orang bapak-bapak datang, ia mengatakan tetangga wanita ini. Bapak-bapak itu kemudian memanggil temannya yang lain dan menyuruh membawa wanita ini ke rumah sakit.

Setelah temannya dan wanita yang terluka tadi pergi, bapak-bapak itu menawariku untuk mampir ke rumahnya. Rumahnya tampak sederhana khasnya rumah di pedesaan. Sampai di sana aku ditawari minuman dan beberapa makanan. Namun aku tak langsung mencicipi nya karena ada sedikit kecurigaan kepada bapak-bapak ini. Kenapa ia tidak ikut mengantarkan wanita tadi, tapi malah menawariku mampir dan bersantai.

Karena rasa curiga itulah aku memutuskan untuk kabur saat bapak-bapak itu sedang lengah. Dan benar saja, ia kemudian mengejarku dengan pisau di tangannya.

Aku terus berlari melewati jalanan yang sempit, gang demi gang. Semua orang yang kutemui saat lari tampak cuek dan tidak peduli sama sekali. Beberapa anak-anak juga tampak santai bermain padahal ada orang bersenjata yang sedang mengejarku. Nafasku sudah tidak bisa diatur, kaki juga terasa sangat berat untuk berlari lagi, dan sialnya di depan juga jalannya semakin sempit. Aku sangat panik saat bapak-bapak itu ternyata sudah berada di belakangku sambil senyum menyeringai.

Karena sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, akhirnya kuputuskan untuk bangun dengan posisi masih terengah-engah.

Advertisements

Komentarmu?