Metodologi Riset Ilmiah Imre Lakatos

imre lakatos

rahmadanil.com | imre lakatos

Sejarah filsafat ilmu dimulai dengan aliran positivisme logis yang dikembangkan oleh kelompok Wina yang pada tahun 1920 mengibarkan bendera perlawanan terhadap Kantian dan Hegelian. Mereka mempunyai dua agenda utama, yaitu membedakan sains dengan metafisika (problem demarkasi) dan merekonstruksi seluruh pengetahuan ilmiah dari pengalaman.[1]

Dominasi kelompok Wina ini ditentang oleh Karl Popper. Ia menamakan filsafatnya dengan rasionalisme kritis. Bagi Popper, suatu teori ditentukan oleh sikap yang selalu terbuka bagi kritik.[2] Obyektifitas ilmu diperoleh dengan cara membentuk kriteria-kriteria rasional demi memperoleh pengetahuan dan untuk memahami pertumbuhannya. Kriterium pembeda antara ilmu dan non-ilmu adalah falsifiabilitas. Artinya, suatu pernyataan dipandang sebagai ilmiah apabila dapat difalsifikasikan secara empirik. Dalam kerangka konsep Popper yang dinamis, tidak ada ruang bagi pengetahuan yang absolut. Tidak ada tempat bagi data inderawi sebagai dasar kepastian. Ia menolak induksi.[3]

Teori falsifikasi Popper ditentang oleh Thomas S. Kuhn. Bagi Kuhn, perkembangan ilmu pengetahuan terjadi karena adanya shifting paradigm. Pengetahuan tumbuh dari pra science menuju ke normal science lalu muncul anomali-anomali yang menyebabkan terjadinya krisis. Apabila krisis tersebut sudah sangat akut, maka dapat mengarah kepada terjadinya revolusi. Revolusi itu bersifat pengecualian dan extra scientific.[4]

Shifting paradigm merupakan perubahan yang bersifat mistik dan tidak bisa dijangkau oleh rasio, maka ia berada dalam bidang psychology of discovery dan dibangun di atas logic of discovery. Hal ini berbeda dengan Imre Lakatos. Konsep The Development of Science yang digagas oleh Lakatos dibangun atas dasar metodologi Program Riset Ilmiah. Lakatos menolak terjadinya revolusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Baginya, perkembangan ilmu dapat terjadi melalui kontinuitas. Bahkan jika sebuah program riset terfalsifikasi, ia tidak lantas terpuruk tetapi masih berpeluang untuk meraih kesuksesan.

Menurut Feyerabend, gagasan Lakatos merupakan sintesa atas dua penemuan. Pertama penemuan Popper yang menyatakan bahwa ilmu berkembang dengan adanya diskusi kritis dan pengajuan pandangan-pandangan alternatif. Kedua, penemuan Kuhn tentang fungsi ketahanan yang dinyatakan dengan dalil ketahanan masa.[5]

 Biografi Imre Lakatos

Imre Lakatos lahir di Hungaria pada tanggal 9 november 1922. Ia menyelesaikan perkuliahannnya pada bidang matematika, fisika dan filsafat di Univeitas of Debrecen. Karir Lakatos dimulai ketika dipercaya menjabat sebagai Menteri Pendidikan pada tahun 1974, akan tetapi dalam perjalanan karirnya ini, ia pernah dipenjara pada tahun 1950 karena pemikirannya dipandang menyebabkan kekacauan politik.[6] Pasca bebas dari penjara, ia mulai menekuni bidang akademik dengan mengalihbahasakan buku matematika ke bahasa Hungaria. Pada tahun 1956, terjadilah revolusi yang membuatnya harus melarikan diri ke Wina, Austria, yang akhirnya mengantarkan dirinya sampai ke London, Inggris. Kemudian ia melanjutkan studinya di Cambridge University hingga meraih gelar Ph.D setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul Essays in the Logic of Mathematical Discovery pada tahun 1961.[7]

Pada tahun 1963, Lakatos tercatat pernah menerbitkan tulisan berjudul Proof and Refutations sebagai penyempurnaan disertasinya dalam The British Journal for the Philosophy of Science. Lakatos lebih banyak menulis dalam bidang filsafat matematika sebelum beralih menulis tentang filsafat sains. Dia berhasil menyederhanakan dan memastikan bahwa subyek matematika tidak sama lagi. Dia menulis suatu dialog filosofis tentang bukti yang mendasar sebagaimana muncul dalam ilmu geometri yang digagas oleh Euler, sehingga karya ini disejajarkan dengan dialog yang pernah ditulis oleh Hume, Berkeley, dan Plato.[8]

Pada saat Lakatos diangkat menjadi pengajar di London School of Economic, ia sering terlibat diskusi dengan Popper, Feyerabend, dan Kuhn. Diskusi ini bertujuan untuk menetapkan gagasannya tentang “Metodology of Scientific Research Programmes”. Pada tahun 1965, dalam suatu simposium yang mempertemukan tokoh-tokoh filsafat tersebut, Lakatos menawarkan metodologi program riset ilmiah sebagai struktur epistemologis bagi riset keilmuan masa depan. Selanjutnya karyanya yang berjudul Criticism and the Methodology of Scientific Research Programmes diterbitkan sebagai evaluasi atas prinsip falsifikasi Popper dan upaya perbaikan atas kelemahan dan kekurangannya. Selain itu, dia berkolaborasi dengan Feyerabend menulis For and Against Method. Lakatos meninggal dunia pada tanggal 2 Februari 1974 dalam usia 54 tahun di London.[9]

Adapun karya Lakatos lainnya antara lain: Methodology of Scientific Research Programmes, Falsification and the Methodology of Scientific Research Programmes, dan Mathematic, Science and Epistemology.[10]

Heuristic dalam Program Riset Ilmiah

Dalam program riset yang berawal dari simposium pendapat Kuhn dan Popper ini terdapat aturan-aturan metodologis yang disebut dengan “heuristic”. Secara etimologi, heuristic berasal dari bahasa Yunani, hereuskein yang berarti menemukan. Heuristic adalah kerangka kerja konseptual yang merupakan konsekuensi dari bahasa (suatu upaya menemukan jalan untuk menangani masalah secara ilmiah atau jalan yang dilalui menuju ilmu). Cara kerja heuristic ini adalah dengan penemuan-penemuan memalui penalaran induktif dan percobaan-percobaan sekaligus untuk menghindari kesalahan dalam memecahkan suatu masalah.[11] Istilah ini semakna dengan canon of validation (proses yang harus mempertanggung jawabkan suatu hipotesis) dan context of discovery (proses yang menghasilkan penyusunan suatu hipotesis).[12]

Selain itu, heuristic merupakan logika kreatif yang memberikan kaidah-kaidah yang dapat diikuti guna mengatur terjadinya pembaharuan ilmiah, yang antara lain perumusan sistematis, penyelidikan asumsi dasar, pencarian alternatif, perhatian bagi inkonsistensi, dan kepekaan terhadap masalah.[13] Dengan demikian, dapat dipahami bahwa heuristic upaya menemukan kaidah-kaidah guna menghasilkan suatu pemikiran alternatif agar muncul pembaharuan ilmiah.

Menurut Lakatos, persoalan pokok yang berhubungan dengan logika penemuan (logic of discovery) tidak bisa dibahas secara memuaskan kecuali dalam kerangka metodologi program riset.[14] Pemahaman terhadap sejarah ilmu pengetahuan adalah sejarah program riset, bukan sekedar teori. Adapun metodologi program riset ilmiah ini mengandung tiga elemen:

  1. Inti pokok (hard core)

Hardcore atau inti pokok yang merupakan asumsi dasar yang menjadi ciri dari program riset ilmiah yang melandasinya dan tidak dapat ditolak atau dimodifikasi. Hardcore ini dilindungi dari ancaman falsifikasi, sifatnya adalah menentukan hipotesa-teoritis yang bersifat umum dan sebagai dasar bagi program pengembangan. Hard core disebut sebagai heuristic negatif, yakni langkah-langkah yang harus dihindari dalam program riset ilmiah, bahwa inti yang solid dari asumsi fundamental seharusnya jangan sampai dibatalkan.[15] Selama program masih dalam perkembangan, hard core-nya tetap tidak dimodifikasi sehingga tetap utuh dan menjadi dasar diatas elemen lain. Sehingga menurut Lakatos, jika seorang ilmuwan melakukan modifikasi terhadap asumsi fundamental itu, maka sebenarnya ia telah keluar dari program riset yang dilakukan.[16]

Dalam heuristic negatif, penelitian tidak boleh diarahkan kepada hard core, melainkan kepada hipotesis bantu yang berada di sekeliling hard core yang berfungsi sebagai protective belt (lingkarang pelindung).

  1. Lingkaran pelindung (protective belt)

Protectif belt atau lingkaran pelindung, ia terdiri dari hipotesa-hipotesa bantu dalam kondisi awal. Lingkaran pelindung harus mampu menahan berbagai ancaman, serangan, pengujian dan memperoleh penyesuaian, bahkan perubahan dan pergantian demi mempertahankan hardcore. Potectif belt ini juga disebut dengan heuristic positif yang terdiri dari seperangkat saran atau isyarat tentang bagaimana mengembangkan varian yang kompleks atau bagaimana memodifikasi dan meningkatkan lingkaran pelindung yang fleksibel. Tujuannnya adalah untuk mengalihkan sasaran falsifikasi kepada asumsi-asumsi lain. Hal inilah yang nantinya akan membentuk suatu teori yang koheren namun tetap terbuka untuk dikembangkan dan juga memberikan kesempatan untuk melakukan penelitian lebih lanjut.[17]

Lakatos mencontohkan pengertian heuristic positif dalam kisah awal teori gravitasi Newton. Newton pertama kali mencapai hukum terbalik gaya tarik dengan memperkirakan gerak eliptis suatu titik planet mengelilingi suatu matahari yang tetap diam. Apabila teori gravitasi diterapkan dalam praktek gerak planet, program itu perlu dikembangkan dari model yang diidealisasi ke model yang lebih realistis. Tetapi perkembangan ini menuntut pemecahan problem teoritis dan tidak akan dicapai tanpa kerja teori secukupnya.[18] Dengan demikian, heuristic positif harus dibuktikan secara realistis agar dapat menerangkan fenomena secara nyata.

  1. Rangkaian teori (a series theory)

Ketiga a series theory atau serangkaian teori, yaitu ketertarikan teori dimana teori berikutnya adalah sebagai akibat dari klausul bantu yang ditambahkan dari teori sebelumnya. Lakatos berpendapat bahwa yang harus dinilai sebagai sesuatu yang ilmiah bukanlah teori tunggal tetapi serangkaian teori. Dalam perkembangan ilmu pengetahuan, yang terpenting adalah kotinuitas yang pasti, hal ini berangkat dari serangkaian riset ilmiah.[19]

Sebuah riset dikatakan ilmiah jika memenuhi dua syarat, pertama adalah harus memenuhi derajat koherensi yang mengandung perencanaan yang pasti untuk program riset selanjutnya. Kedua adalah harus menghasilkan penemuan fenomena baru.[20] Struktur program riset ini bertujuan untuk menghasilkan perkembangan ilmu yang rasional. Keberhasilannya terlihat jika terjadi perubahan problem yang progresif.

Metodologi program riset ilmiah dapat ditelaah dari dua sudut pandang, yang pertama berhubungan dengan pekerjaan program riset tunggal itu sendiri dan yang kedua dibandingkan dengan program riset saingannya. Program riset tunggal meliputi perluasan-perluasan-perluasan dan modifikasi perluasan lingkaran pelindung dengan menambah atau menguraikan berbagai macam hipotesa pendukung dan harus dapat diuji secara independen. Hal ini menyiratkan bahwa Lakatos sepenuhnya mendukung objektifitas Popper dan menginginkan agar riset ilmiah menjadi pandangan yang objektif dan mendistors refleksi terhadap pemikiran manusia, baik yang menciptakan maupun yang memahaminya.[21]

Secara umum, manfaat program riset ditentukan oleh sejauh mana para ilmuwan dapat mengembangkan temuan-temuannya atau malah tidak menghasilkan apa-apa. Disamping itu, degenerasi suatu program akan membuka jalan bagi temuan ilmuwan lain yang lebih maju, seperti teori Geosentris Ptolemy yang dibantah oleh teori Heliosentris Copernican.

Oleh karenanya, program riset yang progresif dapat ditindak lanjuti oleh para ilmuwan agar problem yang muncul dapat dikenali dan diobservasi lebih jauh lagi untuk kemudian dikaji pemecahan masalahnya. Dengan demikian, adanya konteks yang semakin terbuka untuk didiskusikan, dikritisi, dikembangkan dan yang memiliki sisi empiris yang lebih besar inilah yang menjadikan suatu teori menjadi lebih kuat,[22] mengingat dinamika ilmu merupakan akumulasi teori yang selalu diperkaya dengan hasil empiris.

Ahmad Amir Aziz memaparkan secara ringkas kapan suatu program dapat dikatakan mengalami kemajuan atau kemunduran dalam tabel berikut.

  Progresif Degeneratif
Teoritis

 

Teori baru:

1. Konsisten sesuai fakta-fakta yang diketahui

2. Memprediksi fakta-fakta baru

Teori baru dihasilkan setelah melakukan beberapa pengamatan baru, bukan sebelumnya
Empiris

 

Prediksi fakta baru ternyata benar (yang secara psikologis mendorong verifikasi) Prediksi fakta baru gagal dikonfirmasi

Kemudian muncul pertanyaan, berapa lama waktu yang diperlukan sebelum suatu program dikatakan mengalami degenerasi secara serius? Dikarenakan tidak pastinya suatu hasil usaha di masa depan dalam mengembangkan atau menguji suatu program, maka tidak bisa diklaim suatu program mengalami degenerasi. Lakatos menegaskan bahwa secara garis besar, alasan obyektif semacam itu disediakan oleh program penelitian saingan yang menjelaskan keberhasilan saingan sebelumnya dan menggantinya dengan tampilan yang lebih maju dari kekuatan heuristic.[23]

Telaah Pemikiran Lakatos

Pemikiran Lakatos dapat dikatakan muncul pada saat yang tepat, ketika paradigma positifisme mulai surut tergantikan oleh pemikiran Kuhn dan Popper. Meski begitu, kekuatan filsafat baru tersebut mengalami gangguan ketika sebagian Kuhnian dan Popperian menelan mentah-mentah kedua prinsip revolusi sains dan falsifikasi. Sebagai tokoh yang pernah duduk bersama Kuhn dan Popper, Lakatos mampu mengambil jalan tengah antara pemikiran keduanya.[24]

A.F. Chalmers menempatkan Lakatos sebagai pemikir yang kritis dan dipandang memiliki otoritas.[25] Pemikiran Lakatos diawali dari sesuatu yang sederhana, bukan berangkat dari statemen “ada pengetahuan”, melainkan “ada perkembangan ilmu pengetahuan”. Konsep dasar inilah yang dicoba dielaborasi sehingga mampu menetapkan secara sistematis suatu kerangka konsep dan kerangka kerja yang mudah ditangkap secara logis. Lakatos memimpikan suatu program riset yang sehat dan secara positif mampu mengenali sejumlah anomali, karena menemukan anomali bukanlah perkara yang mudah, terutama bagi kalangan yang berpijak pada paradigma normal science.[26]

Lakatos menegaskan bahwa semua teori dilahirkan dalam kondisi belum mapan, meskipun beberapa diantaranya lebih baik daripada yang lainnya. Relatifisme teori-teori amat ditegaskan oleh Lakatos mengingat para peneliti sering terjebak pada apa yang disebut dengan justifikasi. Justifikasi tidak akan menjadikan berkembangnya suatu ilmu, sebab para ilmuwan hanya menumpuk fakta-fakta yang semuanya berbanding lurus. Kecenderungan yang muncul seringkali hanya dogmatik dan mengulang pengetahuan yang sudah ada. Heuristic yang diusung Lakatos terbilang menarik, di satu sisi ia mengamankan teori besar yang sudah mapan dan di sisi lain mendorong para ilmuwan untuk menemukan teori-teori pendamping yang memiliki basis eksperimental yang meyakinkan.

Sebagai tokoh filsafat, Lakatos memiliki perhatian akademik menyangkut nilai-nilai intelektual. Dia menyatakan bahwa problema sentral dalam filsafat ilmu adalah problema menetapkan syarat-syarat universal yang diperlukan teori untuk bisa dinilai sebagai ilmiah. Ia merupakan problem yang bertalian erat dengan problema rasionalitas ilmu dan pemecahan problema itu harus membimbing kita untuk menentukan apakah penerimaan suatu teori ilmiah atau tidak. Posisi relatifis yang menganggap tidak ada standar yang lebih tinggi daripada standar masyarakat yang bersangkutan, tidak memberikan kesempatan kepada para ilmuwan untuk mengkritik standar itu.[27] Dengan demikian, dapat dipahami bahwa pemikiran Lakatos menunjukkan bahwa dia adalah seorang rasionalis dan mampu memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan metodologi keilmuan.

Aplikasi Pemikiran Imre Lakatos dalam Studi Islam

Salah satu contoh kasus menggunakan metodologi program riset yang digagas oleh Imre Lakatos adalah dalam kasus diyat (kompensasi uang bagi keluarga korban pembunuhan). Korban perempuan dan zimmi tidak  mendapatkan kompensasi sebanyak korban laki-laki. Diskriminasi semacam ini juga muncul pada kasus hudud dan qisas di mana kesaksian perempuan tidak diterima di dalamnya. Kesaksian perempuan hanya diterima dalam kasus-kasus perdata, itu pun dengan perbandingan dua perempuan sebanding dengan satu laki-laki.

Menurut an-Na`im, diskriminasi tersebut muncul karena semua prinsip-prinsipnya didasarkan pada teks-teks al-Qur’an dan as-Sunnah pada periode Madinah. Dengan metode “evolusi basis hukum Islam” (naskh ala an-Na`im), maka dapat diajukan solusi alternatif dengan menekankan penggunaan teks-teks periode Makkah. Untuk memperkuat argumentasinya, an-Na`im mengajukan contoh interpretasi terhadap surat an-Nisa’ ayat 34 untuk mensejajarkan posisi laki-laki dan perempuan. Kata qawwama pada ayat tersebut yang mengisyaratkan adanya otoritas laki-laki atas perempuan adalah bersifat kondisional berdasarkan variabel ekonomi dan keamanan perempuan yang dijamin laki-laki.[28]

Cara yang diajukan oleh an-Na`im adalah dengan mengasah pisau bedah analisis kajian al-Qur’an yaitu merevisi konsep naskh (protective belt) untuk menghindarkan al-Qur’an dari anomali. Dengan cara ini, al-Qur’an sebagai inti utama Islam akan tetap kokoh, tegak dan suci. Ia terhindar dari segala macam anomali. Revisi dan penyempurnaan hanya terjadi pada wilayah protective belt (ilmu-ilmu keislaman). Ilmu-ilmu keislaman dengan berbagai macam pisau bedah analisis yang digunakan dapat terus berkembang secara kontinyu demi menjaga dan melindungi al-Qur’an dari berbagai macam tantangan dan anomali.

Kesimpulan

Menurut Lakatos, persoalan pokok yang berhubungan dengan logika penemuan (logic of discovery) tidak bisa dibahas secara memuaskan kecuali dalam kerangka metodologi program riset. Pemahaman terhadap sejarah ilmu pengetahuan adalah sejarah program riset, bukan sekedar teori. Adapun metodologi program riset ilmiah ini mengandung tiga elemen: inti pokok (hard core), lingkaran pelindung (protective belt), dan rangkaian teori (a series theory).

Secara implementasi, metodologi program riset ilmiah dikaji dari dua sudut pandang, yaitu berhubungan dengan pekerjaan program riset tunggal dan dibandingkan dengan program riset saingannya. Dengan struktur program tersebut, metodologi ini diharapkan dapat menghasilkan ilmu yang rasional, sehingga suatu program riset dikatakan berhasil jika terjadi perubahan yang semakin progresif, dan dikatakan gagal jika menghasilkan temuan yang semakin merosot (degeneratif). Secara umum, manfaat program riset ditentukan oleh sejauh mana para ilmuwan dapat mengembangkan temuan-temuannya atau malah tidak menghasilkan apa-apa.

Pemikiran Lakatos dapat dikatakan muncul pada saat yang tepat, ketika paradigma positifisme mulai surut tergantikan oleh pemikiran Kuhn dan Popper. Meski begitu, kekuatan filsafat baru tersebut mengalami gangguan ketika sebagian Kuhnian dan Popperian menelan mentah-mentah kedua prinsip revolusi sains dan falsifikasi. Sebagai tokoh yang pernah duduk bersama Kuhn dan Popper, Lakatos mampu mengambil jalan tengah antara pemikiran keduanya.

Sebagai tokoh filsafat, Lakatos memiliki perhatian akademik menyangkut nilai-nilai intelektual. Dia menyatakan bahwa problema sentral dalam filsafat ilmu adalah problema menetapkan syarat-syarat universal yang diperlukan teori untuk bisa dinilai sebagai ilmiah. Ia merupakan problem yang bertalian erat dengan problema rasionalitas ilmu dan pemecahan problema itu harus membimbing kita untuk menentukan apakah penerimaan suatu teori ilmiah atau tidak. Posisi relatifis yang menganggap tidak ada standar yang lebih tinggi daripada standar masyarakat yang bersangkutan, tidak memberikan kesempatan kepada para ilmuwan untuk mengkritik standar itu. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa pemikiran Lakatos menunjukkan bahwa dia adalah seorang rasionalis dan mampu memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan metodologi keilmuan.

Sumber

Abdullah, M. Amin. Islamic Studies di Perguruan Tinggi Pendekatan Integratif-Interkonektif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2006.

Aziz, Ahmad Amir. “Pemikiran Imre Lakatos (1922-1974) tentang Metodologi Program Riset dan Signifikansinya dalam Kajian Keislaman”, Jurnal Islamica. Vol. 1. No. 1. September 2006.

Bekker, Anton, dan Ahmad Charis Zubair. Metodologi Penelitian Filsafat. Yogyakarta: Kanisius. 1990.

Chalmers, A.F. Apa itu yang Dinamakan Ilmu? terj. Redaksi. Jakarta: Hasta Mitra. 1983.

Feyerabend, Paul. “Consolation for the Specialist”, Criticism and the Growth of Knowledge. London: Cambridge University Press. 1970.

Advertisements

Honderich, Ted. The Oxford Companion ti Philosophy. New York: Oxford University Press. 1995.

Katz, Miguel. Epistemologia e Historia de la Quimica. T.Tp: T.p. 2010.

Al-Khuli, Yumna Tharif. Falsafah al-‘Ilm fi al-Qarn al-‘Isyrin. Kuwait: ‘Alam al-Ma’rifah. 2000.

Kuhn, Thomas S. Peran Paradigma dalam Revolusi Sains terj. Tjun Surajaman. Bandung: Remaja Rosdakarya. 1993.

Lakatos, Imre. “Falsification and the Methodology of Scientific Research Programmes”, Criticism and the Growth of Knowledge. London: Cambridge University Press. 1970.

_______“Proof and Refutations”, The British Journal for the Philosophy of Science. http://www.complete-review.com/reviews/lakatosi/pandr.htm, diakses pada 18 Desember 2017.

Murphy, Nancey. Theology in the Age og Scientific Reosening. London: Cornell University Press. 1990.

Muslih, Muhammad. Filsafat ilmu: Kajian atas Asusmsi Dasar, Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Belukar. 2004.

Peurson, Van. Susunan Ilmu Pengetahuan: Sebuah Pengantar Filsafat Ilmu terj. J. Dros. Jakarta: Gramedia. 1993.

Rofiq, Ahmad Choirul. “Signifikansi Teori-Teori Popper, Kuhn, dan Lakatos terhadap Pengembangan Ilmu-Ilmu Keislaman”, Jurnal Ulumuna. Vol. 14. No. 1. Juni 2010.

Tamtowi, Moh. “Urgensi Scientific Research Programme Imre Lakatos bagi Pengembangan Studi Islam”, Jurnal Substantia. Vol. 12. No. 1. April 2011.

Taryadi, Alfons. Epistemologi Pemecahan Masalah. Jakarta: Gramedia. 1989.

Zucker, Arthur. Introduction to the Philosophy of Science. New Jersey: Prentice-Hall Inc. 1996.

Catatan

[1] Nancey Murphy, Theology in the Age og Scientific Reosening (London: Cornell University Press, 1990), hlm. 52.

[2] Alfons Taryadi, Epistemologi Pemecahan Masalah (Jakarta: Gramedia, 1989), hlm. 188.

[3] Alfons Taryadi, Epistemologi Pemecahan Masalah, hlm. 54.

[4] Thomas S. Kuhn, Peran Paradigma dalam Revolusi Sains terj. Tjun Surajaman (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1993), hlm. 10.

[5] Paul Feyerabend, “Consolation for the Specialist” dalam Criticism and the Growth of Knowledge (London: Cambridge University Press, 1970), hlm. 211.

[6] Muhammad Muslih, Filsafat ilmu: Kajian atas Asusmsi Dasar, Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan (Yogyakarta: Belukar, 2004), hlm. 119.

[7] Ahmad Amir Aziz, “Pemikiran Imre Lakatos (1922-1974) tentang Metodologi Program Riset dan Signifikansinya dalam Kajian Keislaman”, Jurnal Islamica, Vol. 1, No. 1, September 2006, hlm. 43-44.

[8] Imre Lakatos, “Proof and Refutations”, The British Journal for the Philosophy of Science, http://www.complete-review.com/reviews/lakatosi/pandr.htm, diakses pada 18 Desember 2017. Lihat juga: Ted Honderich, The Oxford Companion ti Philosophy, hlm. 453.

[9] Muhammad Muslih, Filsafat ilmu: Kajian, hlm. 119. Lihat juga: Ahmad Amir Aziz, Ahmad Amir Aziz, “Pemikiran Imre Lakatos (1922-1974) tentang Metodologi Program Riset dan Signifikansinya dalam Kajian Keislaman”, hlm. 44.

[10] Moh. Tamtowi, “Urgensi Scientific Research Programme Imre Lakatos bagi Pengembangan Studi Islam”, Jurnal Substantia, Vol. 12, No. 1, April 2011, hlm. 34.

[11] Muhammad Muslih, Filsafat ilmu : Kajian, hlm. 120.

[12] Van Peurson, Susunan Ilmu Pengetahuan: Sebuah Pengantar Filsafat Ilmu terj. J. Dros (Jakarta: Gramedia, 1993), hlm. 86.

[13] Anton Bekker dan Ahmad Charis Zubair, Metodologi Penelitian Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 1990), hlm. 52-53.

[14] Arthur Zucker, Introduction to the Philosophy of Science (New Jersey: Prentice-Hall Inc, 1996), hlm. 167-168.

[15] Imre Lakatos, “Falsification and the Methodology of Scientific Research Programmes” dalam Criticism and the Growth of Knowledge (London: Cambridge University Press, 1970), hlm. 132.

[16] Imre Lakatos, Falsification and the Methodology of Scientific Research Programmes, hlm. 135.

[17] Muhammad Muslih, Filsafat ilmu : Kajian, hlm. 121.

[18] Ahmad Amir Aziz, “Pemikiran Imre Lakatos (1922-1974) tentang Metodologi Program Riset dan Signifikansinya dalam Kajian Keislaman”, hlm. 48.

[19] Muhammad Muslih, Filsafat ilmu : Kajian, hlm. 121.

[20] Muhammad Muslih, Filsafat ilmu : Kajian, hlm. 121.

[21] Muhammad Muslih, Filsafat ilmu : Kajian, hlm. 122.

[22] M. Amin Abdullah, Islamic Studies di Perguruan Tinggi Pendekatan Integratif-Interkonektif, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hlm. 45.

[23] Imre Lakatos, Falsification and the Methodology of Scientific Research Programmes, hlm. 140.

[24] Ahmad Choirul Rofiq, “Signifikansi Teori-Teori Popper, Kuhn, dan Lakatos Terhadap Pengembangan Ilmu-Ilmu Keislaman”, Jurnal Ulumuna, Vol. 14, No. 1, Juni 2010, hlm. 190.

[25] A.F. Chalmers, Apa itu yang Dinamakan Ilmu?, terj. Redaksi, (Jakarta: Hasta Mitra, 1983), hlm. 89.

[26] Ahmad Amir Aziz, “Pemikiran Imre Lakatos (1922-1974) tentang Metodologi Program Riset dan Signifikansinya dalam Kajian Keislaman”, hlm. 50.

[27] Ahmad Amir Aziz, “Pemikiran Imre Lakatos (1922-1974) tentang Metodologi Program Riset dan Signifikansinya dalam Kajian Keislaman”, hlm. 51.

[28] Moh. Tamtowi, “Urgensi Scientific Research Programme Imre Lakatos bagi Pengembangan Studi Islam”, Jurnal Substantia, Vol. 12, No. 1, April 2011, hlm. 34.

Advertisements

Komentarmu?