Kritik Terhadap Praktek Poligami – Hermenutika Fatimah Mernissi

poligami

Praktek poligami dalam masyarakat Arab jahiliyyah atau sebelum kedatangan islam adalah suatu hal yang biasa. Penguasa, orang kaya dan juga masyarakat pada umumnya menganggap bahwa kaum wanita memiliki derajat yang rendah bahkan disamakan dengan barang. Tugas kaum wanita hanya untuk melayani kaum laki-laki, sehingga sebagian besar peraturan pada masa itu tidak memberikan hak sama sekali kepada wanita untuk berperan aktif dalam kegiatan apapun.[1] Praktek poligami yang berkembang ketika itu tidak memiliki aturan sama sekali, baik dari sisi jumlah maupun dari persyaratan yang harus dipenuhi ketika akan berpoligami.

Perubahan mulai terjadi ketika Rasulullah hadir dan membawa ajaran islam,  budaya jahiliyyah berangsur-angsur mulai dirubah dan ditinggalkan, termasuk dalam hal poligami. Dalam masalah poligami, islam mengaturnya melalui Q.S An-Nisa’(4) : 3, dan juga dalam beberapa hadis Nabi. Penjelasan ini menunjukkan bahwa salah satu tugas penting yang diemban oleh nabi Muhammad adalah mengangkat derajat kaum wanita. Islam menggunakan pendekatan yang sangat baik, yakni tidak secara serta-merta memberikan pelarangan secara mutlak, akan tetapi dilakukan dengan perlahan-lahan seperti dengan membatasi jumlah yang diperbolehkan dalam berpoligami.[2] Tindakan ini juga sering diperlihatkan dalam berbagai kasus, seperti kasus khamr yang akhirnya mendapatkan pelarangan secara mutlak setelah melewati 3 proses.

Poligami dalam beberapa hadis seperti H.R. Ibnu Majah no. 1942, dan H.R. Abu Daud no. 1914 dijelaskan bahwa ada beberapa sahabat yang masuk islam sementara mereka memiliki istri yang banyak. Kemudian mereka bertanya kepada Rasul apa sebaiknya yang mereka lakukan, lalu Rasulullah menyuruh untuk menceraikan sampai hanya tersisa empat orang saja. Kasus ini seperti yang disampaikan oleh Allah di dalam Q.S An-Nisa’ (4) : 3. Akan tetapi ada suatu hadis yang terdapat dalam kitab shahih Bukhari no. 3437 yang menceritakan kisah tentang pelarangan yang dilakukan oleh nabi Muhammad kepada Ali bin Abi Thalib yang berniat untuk melakukan poligami terhadap Fatimah. Hal ini tentu saja menimbulkan beberapa pertanyaan seperti, kenapa di satu sisi Allah dan juga nabi Muhammad sendiri memperbolehkan poligami sementara dalam kasus ini Nabi melarangnya.

Oleh karena itulah dalam penelitian ini penulis menggunakan konsep hermeneutika yang digagas oleh Fatimah Mernissi untuk menganalisis dan meneliti terkait dengan kasus ini. Fatimah Mernissi dalam hermeneutikanya menawarkan sebuah pendekatan yang disebut psycho-histrory ada juga yang menyebut sosio-historis, yakni sebuah pendekatan yang mengkaji sejarah dengan melihat kondisi psikologis dan sosiologis pelaku sejarah, sehingga dalam meneiliti sebuah hadis, ia lebih menekankan kajiannya pada perawi pertama dalam hadis.[3]

Dalam meneliti sebuah hadis, Fatimah Mernissi menggunakan kritik sanad dan matan. Kritik sanad dilakukan dengan tujuan untuk melihat keadilan dan kedhabitan seorang perawi, sementara kritik matan dengan melihat apakah sebuah hadis menggambarkan atau pantas dengan ciri-ciri sabda Nabi, kemudian tidak memiliki pertentangan dengan ayat Al-Qur’an, logika, fakta sejarah, akal sehat, dan juga hadis nabi lainnya. Setelah itu ia juga menggunakan metode tarjih untuk menilai kualitas suatu hadis.Oleh karena inilah penelitian ini penulis lakukan untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan, Bagaimana aplikasi teori Fatimah Mernissi dalam memahami hadis tentang larangan poligami?

Poligami dalam Berbagai Sudut Pandang

Pandangan Al-Qur’an dan Penafsirannya

Pembahasan tentang poligami dalam Al-Qur’an dijelaskan oleh Allah dalam Q.S An-Nisa’ (4) : 3

 “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap perempuan yang yatim bilamana kamu mengawininya, Maka kawinilah wanita-wanita lain yang kamu senangi dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil, Maka kawinilah seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”

Ayat ini turun berkaitan dengan sebuah peristiwa sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut ini :

            Dari Urwah bin Az-Zubair, dia bertanya kepada Aisyah tentang firmannya, “ Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya)”. ‘Aisyah berkata : “wahai keponakanku, anak yatim ini berada dalam perawatan walinya, yang hartanya bergabung dengan harta walinya, lalu walinya tertarik terhadap kecantikan dan hartanya. Kemudian walinya ingin mengawininya tanpa berlaku adil dalam maharnya, maka memberikan kepadanya tidak seperti memberikan kepada yang lainnya. Maka menikahi mereka terlarang, kecuali jika berlaku adil kepada mereka dalam menyempurnakan maharnya, lalu mereka disuruh untuk menikahi wanita-wanita yang disenangi para lelaki selain wanita-wanita itu.[4]

Dalam memahami ayat ini, ulama dan penafsir memiliki pandangan yang berbeda-beda. Ada yang berpendapat bahwa ayat ini merupakan hukum diperbolehkannya perilaku poligami dalam islam dengan ketentuan tidak boleh lebih dari 4 dan sanggup untuk berbuat adil. Adil dalam hal ini juga memiliki beberapa perbedaan makna, seperti Al-Maraghi dalam tafsirnya mengatakan bahwa makna adil adalah menyampaikan hak kepada pemiliknya secara efektif.[5] Sedangkan menurut  Quraish Shihab, adil pada mulanya diartikan dengan sama atau persamaan, yang menjadikan pelakunya tidak memihak atau berpihak pada yang benar.[6] Sementara  adil dalam poligami menurut Ibnu Hazm adalah keadilan secara mutlak dan utuh yang berlaku sama tanpa adanya ketimpangan, pengunggulan dan perbedaan diantara istri yang satu dengan isteri yang lainnya.[7]

Di sisi lain, ayat ini diyakini sebagai larangan dan peringatan yang disampaikan oleh Allah kepada orang-orang yang ingin dan akan berpoligami untuk berfikir ulang mengenai persyaratan diperbolehkannya poligami. Dalam hal ini Allah mensyaratkan keadilan sebagai kunci utama, sementara itu juga disampaikan bahwa seseorang tidak akan dapat bebuat adil secara mutlak antara dua atau 3 orang istrinya. Walaupun secara Zhahir ia memperlakukan istri-istrinya akan tetapi secara Bathin belum tentu dapat berbuat adil. Hal inilah yang dijadikan alasan bahwa sebenarnya poligami itu tidak diperbolehkan.

Pandangan Hadis

Ada beberapa hadis yang menerangkan tentang poligami, berikut beberapa di antaranya:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ عَنْ ابْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ حُمَيْضَةَ بِنْتِ الشَّمَرْدَلِ عَنْ قَيْسِ بْنِ الْحَارِثِ قَالَ أَسْلَمْتُ وَعِنْدِي ثَمَانِ نِسْوَةٍ فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ اخْتَرْ مِنْهُنَّ أَرْبَعًا

“Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim Ad Dauraqqi berkata, telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Ibnu Abu Laila dari Khamaidlah binti Asy Syamardal dari Qais bin Al Harits ia berkata, “Aku masuk Islam sementara aku mempunyai delapan isteri. Lalu aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menuturkan masalah itu. Maka beliau bersabda: “Pilihlah empat di antara mereka.” (H.R. Ibnu Majah : 1942)

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ ح و حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ بَقِيَّةَ أَخْبَرَنَا هُشَيْمٌ عَنْ ابْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ حُمَيْضَةَ بْنِ الشَّمَرْدَلِ عَنْ الْحَارِثِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ مُسَدَّدٌ ابْنِ عُمَيْرَةَ وَقَالَ وَهْبٌ الْأَسَدِيِّ قَالَ أَسْلَمْتُ وَعِنْدِي ثَمَانُ نِسْوَةٍ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اخْتَرْ مِنْهُنَّ أَرْبَعًا قَالَ أَبُو دَاوُد و حَدَّثَنَا بِهِ أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ بِهَذَا الْحَدِيثِ فَقَالَ قَيْسُ بْنُ الْحَارِثِ مَكَانَ الْحَارِثِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ هَذَا هُوَ الصَّوَابُ يَعْنِي قَيْسَ بْنَ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَاضِي الْكُوفَةِ عَنْ عِيسَى بْنِ الْمُخْتَارِ عَنْ ابْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ حُمَيْضَةَ بْنِ الشَّمَرْدَلِ عَنْ قَيْسِ بْنِ الْحَارِثِ بِمَعْنَاهُ

“Telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Husyaim, telah diriwayatkan dari jalur yang lain: Telah menceritakan kepada kami Wahb bin Baqiyyah, telah mengabarkan kepada kami Husyaim dari Ibnu Abu Laila dari Humaidhah bin Asy Syamardal, dari Al Harits bin Qais, ia berkata; Musaddad bin ‘Umairah, dan telah berkata Wahb Al Asadi; aku masuk Islam delapan, kemudian aku menceritakannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pilihlah empat orang diantara mereka.” Abu Daud berkata; dan Ahmad bin Ibrahim telah menceritakannya kepada kami, telah menceritakan kepada kami Husyaim dengan hadits ini, telah berkata Qais bin Al Harits -sebagai ganti Al Harits bin Qais, Ahmad bin Ibrahim berkata; inilah yang benar, yaitu bernama Qais bin Al Harits, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Bakr bin Abdurrahman seorang hakim di Kufah, dari Isa bin Al Mukhtar dari Ibnu Abu Laila, dari Humaishah bin Aisyah Syamardal dari Qais bin Al Harits dengan maknanya.” (H.R Abu Daud : 1914)

Kedua hadis di atas menceritakan tentang keadaan dua orang sahabat yang baru masuk islam. Ketika itu mereka masih membawa budaya jahiliyyah yakni memiliki banyak istri, hal inilah yang kemudian membuat mereka bingung, apakah islam juga memperbolehkan memiliki banyak istri. Kemudian Rasulullah menyampaikan bahwa islam mengatur pernikahan dengan sedemikian rupa, dan memberikan batasan jumlah istri yang diperbolehkan, sementara istri yang lainnya harus ditinggalkan.

Pandangan Ulama Jumhur Ulama

Ada dua pendapat tentang batasan maksimal berpoligami, jumhur ulama menyimpulkan bahwa lafadz matsna wa tsulatsa wa ruba’, kata wawu ataf  dalam ayat itu berfungsi untuk li altakhyir bukan li al-jam’I. Hal ini memeiliki perbedaan dengan kalangan ulama mazhab Zahiriyyah dan Syi’ah Imamiyyah menyimpulkan bahwa wawu-nya berfungsi untuk li al-jam’i yang artinya 2+3+4 sehingga batas maksimal untuk berpoligami adalah 9.[8]

Sementara itu Wahbah Zuhaily mengatakan bahwa lebih setuju pada pendapat jumhur ulama yang menyatakan bahwa maksimal isteri itu 4. Alasan yang disampaikannya berdasarkan pada analisis pembagian waktu bersama istri, bahwa 1 bulan ada 4 minggu menjadikan kemudahan bagi laki-laki untuk membagi waktu bersama isteri-isterinya. Pencurahan cinta dan kasih sayang akan lebih mudah dicurahkan kepada isteri-isterinya dalam batas waktu tidak melebihi satu bulan. Untuk beristeri lebih dari 4 itu ditakutkan berbuat aniaya dan lemah dalam memenuhi hak-hak para isteri.[9]

Ada beberapa pendapat lain tentang masalah berpoligami dalam berbagai keadaan, bahwa poligami itu bisa menjadi sunnah, makruh, dan haram adalah :[10]

  1. Poligami menjadi Sunnah ketika ada kerelaan dari isteri pertama, atau isteri yang pertama dalam keadaan sakit yang tidak memungkinkan untuk mempunyai anak, di satu sisi suami sangat mendambakan anak dan dia yakin mampu untuk berbuat adil. Hal inilah menjadikan poligami itu disunahkan karena adanya kemashlahatan yang disyari’atkan. Hal ini juga dilakukan oleh mayoritas para shahabat.
  2. Makruh ketika dia berpoligami tanpa ada kebutuhan, hanya untuk kenikmatan dan bersenang-senang disertai dengan keragu-raguan untuk berlaku adil kepada para isterinya.
  3. Haram ketika dia yakin bahwa dia tidak bisa berlaku adil, adakalanya karena kemiskinan, kelemahan atau tidak adanya gairah untuk membagi perhatian kepada para isteri.

Pandangan ulama kontemporer

Abduh berpendapat bahwa poligami merupakan tindakan yang tidak boleh dan haram dalam keadaan biasa. Poligami hanya dibolehkan jika keadaan benar-benar memaksa seperti ketika seorang istri tidak dapat mengandung. Kebolehan poligami juga mensyaratkan kemampuan suami untuk berlaku adil. Ini merupakan sesuatu yang sangat berat, seandainya manusia tetap bersikeras untuk berlaku adil tetap saja ia tidak akan mampu membagi kasih sayangnya secara adil.[11]

Quraish Shihab memberikan penafsiran tentang makna adil yang disyaratkan oleh Q.S An-Nisa’ (4) : 3 bagi suami yang hendak berpoligami harus bisa adil dalam bidang material dan immaterial. Keadilan immaterial adalah adil dalam cinta dan kasih sayang, di mana keadilan ini yang tidak mungkin dicapai oleh kemampuan manusia. Oleh sebab itu suami yang berpoligami dituntut tidak memperturutkan hawa nafsu dan berkelebihan cenderung kepada yang dicintai. Dengan demikian, tidaklah tepat menjadikan ayat ini sebagai dalih untuk menutup rapat pintu poligami.[12]

Kedua pendapat ini sangat menekankan pada makna dari adil, tidak hanya adil dalam pembagian kasih sayang secara zahir seperti jumlah hari untuk masing-masing istri ataupun jumlah hartanya tetapi juga kasih sayang secara batin. Pembagian yang adil dalam kasih sayang secara batin memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, sehingga kasus poligami jika dilhat dari beberapa pendapat ulama ini dipandang sebagai suatu perbuatan yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu saja. Hal ini juga menyiratkan bahwa pembolehan poligami bukanlah pembolehan yang mutlak melainkan pembolehan yang bersyarat.

 Hadis tentang Larangan Poligami

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ الْمِسْوَرِ بْنِ مَخْرَمَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ إِنَّ بَنِي هِشَامِ بْنِ الْمُغِيرَةِ اسْتَأْذَنُوا فِي أَنْ يُنْكِحُوا ابْنَتَهُمْ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ فَلَا آذَنُ ثُمَّ لَا آذَنُ ثُمَّ لَا آذَنُ إِلَّا أَنْ يُرِيدَ ابْنُ أَبِي طَالِبٍ أَنْ يُطَلِّقَ ابْنَتِي وَيَنْكِحَ ابْنَتَهُمْ فَإِنَّمَا هِيَ بَضْعَةٌ مِنِّي يُرِيبُنِي مَا أَرَابَهَا وَيُؤْذِينِي مَا آذَاهَا هَكَذَا قَالَ[13]

“Telah menceritakan kepada kami Qutaibah Telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Abu Mulaikah dari Al Miswar bin Makhramah ia berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda sedangkan beliau berada di atas mimbar: “Sesungguhnya bani Hisyam bin Al Mughirah meminta izin kepadaku agar aku menikahkan anak wanita mereka dengan Ali bin Abu Thalib, namun aku tidak mengizinkan kepada mereka, kecuali jika Ali bin Abu Thalib menceraikan anakku lalu menikahi anak wanita mereka. Sesungguhnya anakku (Fathimah) adalah bagian dariku, aku merasa senang dengan apa saja yang menyenangkannya dan aku merasa tersakiti atas semua yang menyakitinya.”

Hadis yang senada juga terdapat dalam beberapa kitab lain, seperti  Muslim yakni Hadis ke 2449 No 93 Bab 15, Tirmidzi yakni Hadis ke 3867 Bab 61, Ibnu Majjah yakni Hadis ke 1998 Bab 56, Abu Daud yakni Hadis ke 2071 Bab 56/6, dan Imam Ahmad yakni Hadis no 18164.

Kondisi Sosio Historis Munculnya Hadis tentang Larangan Poligami

Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari di atas dijelaskan dalam kitab Fathul Baari pada bab pembelaan seseorang terhadap anak wanitanya dalam hal kecemburuan dan keadilan. Sedangkan hadis ini biasanya dikutip untuk menjelaskan permasalahan tentang larangan poligami. Dimasukkannya hadis ini kedalam bab tersebut adalah sebagai penjelasan bahwa maksud yang ingin disampaikan dalam hadis ini adalah dalam rangka menolak kecemburuan dari istri dan meminta perlakuan adil sehingga suami memikirkan kembali niatnya untuk menikah lagi.[14] Dalam kitab Fathul Baari juga dijelaskan bahwa hadis ini disampaikan oleh Nabi ketika beliau menyampaikan hadis tentang ketetapan seperlima harta rampasan perang dan keutamaan-keutamaannya, dan juga kisah tentang pedang Nabi SAW.

Dalam beberapa keterangan yang telah penulis sampaikan di atas, hadis ini terdapat dalam beberapa kitab seperti Bukhari, Muslim, Tirmizi, Abu Daud, dan Imam Ahmad. Semuanya jalur periwayatan berasal dari al-Miswar bin Makhramah. Salah satu hal yang melatarbelakangi al-Miswar menyampaikan hadis ini adalah ketika ia ingin menjelaskan adanya hadis tentang pedang Rasulullah kepada Ali bin al-Husain. Di sini juga dijelaskan bahwa al-Miswar memiliki pandangan yang begitu fanatik terhadap Ali bin al-Husain. Hal inilah yang kemudian ia gunakan sebagai hujjah bahwa keturunan Ali dan Fatimah memiliki derajat yang mulia.

Kritik Sanad

Fatimah Mernissi dalam melihat suatu hadis selalu memberikan perhatian lebih kepada perawi atau sanad pertama. Hal ini sebagai upaya untuk melihat bagaimana persisnya kondisi hadis tersebut dimunculkan. Dalam kasus ini, yang menjadi perhatian utamanya adalah sosok Al Miswar bin Makhramah.

Ia memiliki nama lengkap Al Miswar bin Mukhramah bin Naufal bin Uhaib bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab, Az Zuhri. Ibunya bernama As Syifa binti Auf, saudara perempuan dari ‘Abdur Rahman bin Auf. Beberapa orang sahabat lainnya yang menjadi guru sekaligus meriwayatkan hadis dari mereka seperti ayahnya sendiri, Abdurrahman bin Auf, Abu Bakar, Umar bin Khattab, Amr bin Auf, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Muawiyah, Mughirah, Muhammad bin Maslamah, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Mughirah bin Su’ban dan lain sebagainya. Adapun beberapa muridnya dan yang meriwayatkan hadis dari Beliau seperti putrinya yaitu Ummu Bakr, Marwan bin Hakim, Auf bin Thufail, Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif, Said bin Musaib, Abdullah bin Hunain, Abdullah bin Abi Mulaikah, Ali bin Husain, Urwah bin al-Zubair, Amr bin Dinar, Muawiyah bin Abi Sofyan, dan lainnya.[15]

Dalam kitab fathul Baari dijelaskan beberapa pandangan ulama terhadap Al Miswar seperti beliau mempunyai umur yang panjang. Menurut Amr bin Ali, Al Miswar dilahirkan di Makkah setelah Nabi Hijrah pada tahun yang kedua, pada bulan Dzulhijjah tahun ke-8 Beliau ke Madinah dan wafat di bulan Rabiul akhir pada tahun ke-64. Maka tidak diragukan lagi bahwa al-Miswar adalah generasi sahabat dan bertemu dengan Nabi. Dari beberapa riwayat, tidak ada yang mengatakan ada jarh pada al-Miswar.[16]

Jika dilihat menggunakan kacamata Fatimah Mernissi dalam menilai seorang perawi, maka diperlukan perhatian yang lebih mendalam terkait dengan munculnya hadis ini dalam kondisi psycho-history Al Miswar ketika menyampaikan hadis ini, karena beliaulah yang menjadi common link dalam bahasa Juynboll dalam hadis ini. Sebagaimana telah disebutkan di atas  bahwa Al Miswar memiliki ketertarikan yang amat kuat dan mendalam kepada Ali bin Husein. Sehingga ketika ia menjelaskan tentang suatu perkara yakni keutamaan pedang Rasulullah yang dalam hal itu juga ada kaitannya dengan keutamaan Fatimah maka Al Miswar menyampaikan hadis ini.

Dari satu sisi Al Miswar sebenarnya berkeinginan untuk mengangkat derajat Fatimah, tetapi dengan menjelaskan hadis ini secara tidak langsung ia juga menurunkan derajat Ali bin Abi Thalib yang hendak meminang putri Abu Jahal untuk dijadikan istri keduanya setelah Fatimah. Hal ini kemudian membuat Rasulullah marah dan menyampaikan hadis ini. Dalam hadis ini dijelaskan bahwa Rasulullah melarang Ali bin Abi Thalib untuk memadu Fatimah dengan putri Abu Jahal tersebut.

Dari sini dapat digarisbawahi beberapa hal yang penting, pertama kemunculan hadis ini yakni ketika disampaikan oleh al-Miswar kepada Ali bin Husein adalah dalam konteks memuji dan meninggikan derajat Fatimah dan keturunannya terutama Ali bin Husein yang sangat dikagumi oleh al-Miswar. Kedua, hadis ini baru diriwayatkan beberapa tahun setelah Rasulullah wafat yakni ketika cicit dari Rasulullah sudah lahir, sehingga jarak dari disampaikannya hadis ini dengan diriwayatkannya hadis ini cukup lama. Ketiga, ada kejanggalan dalam periwayatan hadis ini, dalam teks hadis dan asbabul wurud dijelaskan bahwa hadis ini disampaikan oleh Rasulullah di atas mimbar yang artinya hadis ini didengar dan disaksikan oleh banyak orang, akan tetapi setelah menelusuri beberapa kitab hadis seperti yang telah penulis sebutkan di atas bahwa satu-satunya yang meriwayatkan hadis ini dari Rasulullah adalah Al Miswar bin Mukhramah.

Kritik matan

Dari beberapa kitab hadis yang penulis telusuri, ada beberapa perbedaan dalam redaksi matan, yakni penggunaan lafaz اسْتَأْذَنُونِي pada redaksi hadis dalam kitab Muslim, Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah dan Imam Ahmad. Sedangkan dalam kitab Bukhari menggunakan lafaz اسْتَأْذَنُ وا . Penambahan lafaz لَهُمْ dalam kalimat فَلَا آذَنُ ثُمَّ لَا آذَنُ ثُمَّ لَا آذَنُ pada kitab Bukhari, Tirmidzi dan Abu Daud. Perbedaan penggunaan lafaz أَنْ يُرِيدَ dan lafaz أَنْ يُحِبّ. Dan hanya pada redaksi Imam Ahmad tidak mengatakan keduanya.

Dalam redaksi Bukhari dan Ibnu Majah menggunakan lafaz فَإِنامَاهِيَ sedangkan Muslim, Abu Daud dan Abu Daud dalam redaksinya menggunakan lafaz فَإِنامَا ابْ نَتِي . Berbeda pula dengan redaksi Tirmizi yang tidak menggunakan lafaz keduanya akan tetapi menggunakan lafaz فَإِنا هَا . Perbedaan redaksi matan hadis di atas terdapat pula dalam bagian terakhir, yang mana redaksi yang dimiliki oleh Bukhari, Abu Daud dan Ahmad menggunakan lafaz مَ ا أَرَابَ هَا . Sedangkan dalam matan hadis yang dimiliki oleh Muslim, Tirmizi dan Ibnu Majah menggunkan lafaz مَا رَابَ هَا. Perbedaan pada penggunaan lafaz-lafaz ini tidak memberikan pemahaman yang begitu berbeda, hal ini termasuk dalam kategori biasa dalam periwayatan hadis bil ma’na.

Analisis Kandungan Hadis

Dalam menganalisis sebuah hadis, langkah pertama yang harus diperhatikan adalah melihat posisi Nabi dalam hadis tersebut, apakah nabi sedang menjalankan fungsinya sebagai Rasul, Suami, Ayah, atau sebagai kepada pemerintahan. Hadis ini terjadi berkaitan dengan peristiwa Ali bin Abi Thalib yang memiliki posisi sebagai suami Fatimah anak Rasulullah yang ingin menikah lagi dengan putri Abu Jahal. Dari sini dapat diambil beberapa hal utama sekaligus inti dari disampaikannya hadis ini.

Pertama, perempuan yang hendak dinikahi oleh Ali bin Abi Thalib adalah putri dari Abu Jahal yang merupakan musuh islam, hal ini dikhawatirkan akan memunculkan  fitnah.

Kedua, adanya larangan poligami yang disampaikan oleh Rasulullah adalah sebagai bentuk perlindungan dan pembelaannya kepada putrinya. Karena perilaku poligami disadari oleh Nabi sebagai suatu perbuatan yang dapat menyakiti hati putrinya. Poligami adalah budaya jahiliyyah dan merupakan salah satu bentuk perbudakan dan ketidakadilan terhadap kaum perempuan. Dalam hal ini, salah satu misi Nabi adalah untuk mengangkat dan memuliakan posisi kaum wanita, sehingga budaya poligami secara berangsur-angsur mulai ditinggalkan.

Dalam teori Fatimah Mernissi yang menekankan pada aspek pelaku sejarah bisa diambil kesimpulan bahwa munculnya hadis ini dalam periwayatan Al Miswar adalah salah satu bentuk pembelaan kepada kaum perempuan, dalam hal ini adalah Fatimah bin Muhammad. Derajat kaum perempuan kala itu masih berada dalam bayang-bayang kekuasaan laki-laki atau dikenal dengan budaya patriarkhi,[17] sehingga hadis ini muncul sebagai salah satu bukti untuk menguatkan kesetaraan posisi antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial apalagi dalam masalah agama.

Keadilan dan kesetaraan adalah salah satu nilai dasar yang ada dalam agama islam, seperti yang tercantum dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Q.S Az-Zariat : 56 misalnya, dalam ayat ini disampaikan bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki kedudukan sebagai hamba, tidak ada superioritas dalam penghambaan ini. Contoh lain misalnya dalam Q.S Al-An’am : 165, dalam ayat ini dijelaskan bahwa manusia secara umum ada yang diberikan posisi sebagai khalifah. Khalifah dalam ayat ini tidak merujuk pada jenis kelamin tertentu, akan tetapi berlaku secara umum antara laki-laki dan perempuan.[18] Semuanya memiliki hak untuk menjadi pempimpin.

   Penjelasan ini menjadi sandaran bahwa perilaku poligami adalah salah satu hal yang melanggar keadilan dan kesetaraan karena laki-laki dianggap mampu memiliki kuasa atas lebih dari satu wanita, sementara derajat dan kekuasaan beberapa wanita bisa disamakan dengan satu laki-laki. Hal ini tentu saja sejalan dengan hadis di atas, tujuan utama dari ditetapkannya aturan atas perilaku poligami adalah untuk memberikan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Sebagaimana dalam kasus pengharaman khamr yang melewati beberapa fase, poligami juga demikian. Menurut Wahbah al-Zuhaili, poligami masuk dalam kategori khilaf al-Asli, artinya pada mulanya prinsip dasar ajaran Islam adalah monogami.[19] Sehinggan pada akhirnya akan sampai pada keputusan bahwa poligami adalah satu hal yang melanggar kesetaraan yang artinya juga melanggar nilai dasar dari ajaran agama islam itu sendiri.

Advertisements

Jika dikaitkan dengan Q.S An-Nisa’ (4) : 3, hadis ini tidak bertentangan sama sekali karena dalam ayat tersebut juga memberikan persyaratan yang sangat berat untuk melakukan poligami, yakni adanya kemampuan untuk berlaku adil. Keadilan dalam hal ini adalah memberikan perhatian yang sama kepada para istri baik secara zahir maupun batin. Jika adil secara zahir mungkin bisa saja untuk dilakukan, maka adil secara batin sangat susah untuk dilakukan karena setiap orang selalu memiliki kecenderungan kepada salah satu dari beberapa yang ada di hadapannya. Hal inilah yang kemudian memperkuat pendapatan bahwa poligami merupakan pilihan terakhir dalam pernikahan dengan ketentuan bahwa jalan ini mampu membawa kemaslahatan kepada semua pihak yang ada dalam rumah tangga.

Kesimpulan

Praktek poligami merupakan budaya yang sudah lama ada di dunia dan termasuk dalam golongan budaya jahiliyyah. Poligami pada masa itu tidak memiliki aturan sama sekali, masuknya islam perlahan-lahan merubah budaya itu menjadi budaya yang lebih bermartabat yakni dengan membatasi jumlah istri dan juga memberikan persyaratan yang sangat sulit untuk dipenuhi. Selain dari ayat Al-Qur’an, hadis juga menceritakan beberapa perihal seputar poligami, seperti beberapa sahabat yang baru masuk islam sementara mereka memiliki istri yang banyak, maka Rasul menyuruhnya untuk menyisakan empat saja sebagaimana yang diatur dalam Q.S An-Nisa (4) : 3.

Nabi Muhammad melakukan dakwah islam dengan strategi yang sangat baik, yakni secara perlahan-lahan dan melewati beberapa tahapan. Hal ini dilakukan supaya budaya yang sudah melekat lama dalam kehidupan masyarakat tidak terlihat langsung betabrakan dengan ajaran islam. Dalam masalah poligami, budaya yang dulunya sangat membesaskan praktek poligami perlahan mulai diatur dengan memberikan batasan 4 orang istri, dan juga harus memiliki keadilan dalam menjalankan pernikahan itu. Dari sini dapat terlihat bahwa pada akhirnya poligami akan diempatkan sebagai pilihan terakhir atau tidak diperbolehkan sama sekali.

Salah satu hadis yang memiliki indikasi tersebut adalah hadis yang diriwayatkan oleh Miswar bin  Makhramah yang menceritakan tentang pelarangan yang dilakukan oleh nabi Muhammad saat Ali bin Abi Thalib ingin memadu Fatimah yang merupakan anak dari Nabi. Jika dilihat menggunakan teori hermenutika Fatimah Mernissi, hadis ini perlu diperhatikan lebih jauh untuk melihat konteks ketika hadis ini muncul dengan melacak kapan dan dalam situasi apa hadis ini diriwayatkan. Al Miswar menyampaikan hadis ini kepada Ali bin Husein yang merupakan cucu dari Fatimah. Dalam kitab Fathul Bari dijelaskan bahwa Al Miswar memiliki sifat yang fanatik terhadap Ali bin Husein, sehingga ketika bercerita kepada Ali bin Husein tentang keutamaan pedang Rasulullah ia juga menceritakan tentang keutamaan Fatimah sebagaimana yang ada dalam hadis ini.

Selanjutnya melihat kondisi Rasulullah ketika menyampaikan hadis ini, saat itu Rasulullah menempati posisi sebagai seorang ayah yang mendapatkan kabar bahwa anak perempuannya akan dimadu oleh Ali bin Abi Thalib dengan anak dari musuhnya yakni Abu Jahal. Hal ini memberikan dua alasan kepada Nabi untuk melarang dan menolak permintaan Ali bin Abi Thalib. Alasan pertama adalah karena Abu Jahal adalah musuh Nabi sehingga ketika terjadi penikahan antara Ali dan Anaknya ditakutkan akan terjadi fitnah kepada keluarga Nabi terutama kepada Fatimah. Alasan kedua adalah karena Nabi menyadari bahwa perilaku poligami dapat menyatiki kaum perempuan, dalam hal ini tentu saja Nabi sangat menyayangi anaknya, sehigga ia tidak ingin ada yang menyakitinya.

Dari sini dapat terlihat bahwa perilaku poligami pada dasarnya adalah perbuatan yang dapat menyakiti kaum wanita. Sebagai agama yang membawa rahmat bagi semua lini kehidupan, perbuatan yang dapat menyakiti orang lain adalah sesuatu yang dilarang. Dalam hal pernikahan, asas utamanya adalah monogami, sedangkan poligami adalah pilihan terakhir yang bisa diambil jika memang itulah satu-satunya jalan yang bisa memberikan kemaslahan bersama di dalam rumah tangga.

Sumber

Al Asqalany, Ibnu Hajar. Fathul Baari 25, terj. Amiruddin. Jakarta, Pustaka Azzam : 2013.

Al Bukhari, Muhammad Bin Ismail. Shahih Al-Bukhari 5. Bayt Al Afkar Al Dawliyyah : 1992.

Hidayatulloh, Haris. Adil dalam Poligami Perspektif Ibnu Hazm, Religi: Jurnal Studi Islam Volume 6, Nomor 2, Oktober 2015.

Irfan, M. Nurul, Kriminalisasi Poligami dan Nikah Siri, Al-‘Adalah Vol. x, No. 2 Juli 2011.

Jamaluddin,  Distorsi Hadits Misogonis Dan Kesetaraan Gender Dalam Perspektif Fatimah Mernissi, Jurnal Tribakti, Volume 20, Nomor 2, Juli 2009

Al-Maraghi, Ahmad Mustafa. Tafsir Al-Maraghi, Jilid V. Dar Al-Fikr : 1974.

Marzuki, Kekerasan Gender dalam Wacana Tafsir Keagamaan di Indonesia dalam Perspektif Islam, Jurnal Penelitian Humaniora, Vol. 11, No. 2, Oktober 2006.

Mernissi, Fatimah. Ratu-Ratu Islam yang Terlupakan. Terj.Rahmani Astuti dan Enna Hadi. Bandung : Mizan: 1994.

Muthi’ah, Anisatun. Analisis Pemikiran Fatima Mernissi Tentang Hadis-Hadis Missogini. Diya al-AfkarVol. 2 No. 01 Juni 2014

Nasution, Khoiruddin, Riba dan Poligami: Sebuah Studi atas Pemikiran Muhammad Abduh. Jakarta, Pustaka Pelajar : 1996.

Ramli, Mohd Anuar. Bias Gender Dalam Masyarakat Muslim: Antara Ajaran Islam Dengan Tradisi Tempatan,  Jurnal Fiqh, No. 7 (2010) 49-70

Ash Shabuni, Ali, Safwatut Tafasir. Pustaka Al Kausar, Jakarta : 2011.

Shihab, M.Quraish. Wawasan Alquran Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung,Mizan: 1998.

Suhra, Sarifa. Kesetaraan Gender dalam Perspektif Al-Qur’an dan Implikasinya terhadap Hukum Islam Jurnal Al-Ulum (Jurnal Studi-studi Islam) IAIN Gorontalo.

Wartini, Atik. Poligami: Dari Fiqh hingga Perundang-Undangan, Hunafa: Jurnal Studia Islamika, Vol. 10, No. 2, Desember 2013.

Yunita. Fatimah Mernissi dan Simbol Perlawanan Terhapad hadis- hadis misoginis (kajian terhadap pandangan fatima mernissi mengenai hadis “wanita, Anjing dan keledai membatalkan shalat” riwayat abū hurairah)

Zakariya, Nur Mukhlish. Kegelisahan Intelektual Seorang Feminis (Telaah Pemikiran Fatima Mernissi Tentang Hermeneutika Hadis), Karsa, vol. 19 no. 2 tahun 2011.

Daftar Kutipan

[1] Fatimah Mernissi, Ratu-Ratu Islam yang Terlupakan Terj.Rahmani Astuti dan Enna Hadi, (Bandung : Mizan: 1994), hlm. 9

[2] Sebagaimana kasus sahabat Ghailan bin Salamah As-Tsaqafy yang memiliki sepuluh istri, oleh Nabi disuruh memilih empat saja diantara mereka sebagi istrinya, sedangkan yang lain diceraikan.

[3] Nur Mukhlish Zakariya, Kegelisahan Intelektual Seorang Feminis (Telaah Pemikiran Fatima Mernissi tentang Hermeneutika Hadis), Karsa, Vol. 19 no. 2 Tahun 2011, hlm. 129

[4] Ali Ash Shabuni, Safwatut Tafasir, (Pustaka Al Kausar, Jakarta : 2011), hlm.591

[5] Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, Jilid V (Dar Al-Fikr,1974), hlm. 69

[6] M.Quraish Shihab,Wawasan Alquran Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 1998), hlm.111.

[7] Haris Hidayatulloh, Adil dalam Poligami Perspektif Ibnu Hazm, Religi: Jurnal Studi Islam Volume 6, Nomor 2, Oktober 2015, hlm. 234

[8] Atik Wartini, Poligami: Dari Fiqh hingga Perundang-Undangan, Hunafa: Jurnal Studia Islamika, Vol. 10, No. 2, Desember 2013, hlm. 247

[9] Atik  Wartini, Poligami : Dari Fiqh hingga Perundang-Undangan,  Hunafa: Jurnal Studia Islamika, Vol. 10, no. 2, Desember 2013, hlm. 247

[10] Atik  Wartini, Poligami : Dari Fiqh hingga Perundang-Undangan,  Hunafa: Jurnal Studia Islamika, Vol. 10, No. 2, Desember 2013, hlm. 248

[11] Khoiruddin Nasution, Riba Dan Poligami: Sebuah Studi atas Pemikiran Muhammad Abduh (Jakarta; Pustaka Pelajar : 1996), hlm. 100

[12] M.Quraish Shihab,Wawasan Alquran Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung : Mizan, 1998), hlm. 201

[13] Muhammad Bin Ismail Al Bukhari, Shahih Al-Bukhari 5, (Amman Oleh Bayt Al Afkar Al Dawliyyah : 1992), hlm. 489

[14] Ibnu Hajar Al Asqalany, Fathul Baari 25, terj. Amiruddin, (Jakarta, Pustaka Azzam : 2013), hlm. 767

[15] Ibnu Hajar Al Asqalany, Fathul Baari 25, terj. Amiruddin, (Jakarta, Pustaka Azzam : 2013), hlm. 378-379

[16] Ibnu Hajar Al Asqalany, Fathul Baari 25, terj. Amiruddin, (Jakarta, Pustaka Azzam : 2013), hlm. 379

[17] Marzuki , Kekerasan Gender dalam Wacana Tafsir Keagamaan di Indonesia dalam Perspektif Islam, Jurnal Penelitian Humaniora, Vol. 11, No. 2, Oktober 2006: hlm. 4

[18] Sarifa Suhra, Kesetaraan Gender dalam Perspektif Al-Qur’an dan Implikasinya terhadap Hukum Islam Jurnal Al-Ulum (Jurnal Studi-studi Islam) IAIN Gorontalo, hlm. 380

[19] M. Nurul Irfan, Kriminalisasi Poligami dan Nikah Siri, Al-‘Adalah Vol. x, No. 2 juli 2011, hlm.123

Advertisements

Komentarmu?